Senin, 16 Desember 2013

Yoga Dalam Wrhaspati Tattva

KAJIAN YOGA DALAM PUSTAKA SUCI VHRASPATI TATTWA
( Benang Merah Antara Yoga Menurut Vrhasapati Tattwa
Dengan Yoga Sutra Rsi Patanjali )
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
          Penderitaan merupakan masalah yang klasik atau bukan sesuatu yang baru lagi bagi manusia itu sendiri.Penderitaan ini tidak hanya dialami oleh manusia saja, namun secara luas penderitaan ini dialami oleh semua mahluk di maya loka baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.Walaupun demikian kita seharusnya tidaklah berpatah semangat dalam menjalani kehidupan ini, apalagi sebagai manusia yang memiliki kelebihan sabda, bayu dan idep.Idep  inilah yang kita gunakan untuk mencari jalan untuk menghakhiri penderitaan yang kita alami selama kita menjalani kehidupan, karena setiap sesuatu itu pastilah ada jalan keluarnya.Namun didalam perjalan spiritual manusia untuk keluar dari lautan penderitaan, kelahiran dan kematian yang berulang (Punarbawa) manusia sering mengalami kebinggungan jalan manakah yang harus ia tempuh? jalan manakah yang terbaik?Hal ini disebabkan karena banyaknya jalan yang ditawarkan dalam kitab suci Hindu.
          Dalam Vrhaspati Tattwa, HyangIsvara menjelaskan kepada Bagawan Vrhraspatibahwa kecendrungan-kecendrungan sifat manusia itu dipengaruhi oleh tri guna. Dalam ajaran ini tri guna adalah bagian dari citta yaitu alam pikiran.Citta-lah yang menentukan seseorang itu akan selamat, celaka, duka atau bahagia.Lebih jauh Vrhaspati tattwa menjelaskan seseorang dapat mencapai surga, jatuh keneraka atau mencapai moksa adalah karena citta.Dari pertemuan antara purusha dan pradhana itu artinya setelah tahu dan yang diketahui itu lekat maka lahirlah citta.Citta banyak mengambil kesadaran sang purusha yang dianggap sebagi asal, tetapi oleh karena bibit itu telah berpengaruh oleh ketidaksadaran, Ketidaksadaran yang ada pada citta itu dinamakan tri guna, tri guna adalah atribut atau sifat pada citta.
          Sedangkan menurut Rsi Patanjali dalam Yogasutra(I:2) mendefinisikan yoga sebagai “yogas citta vrrti nirodhah” yang dapat diterjemahkan sebagai berikut: Mengendalikan gerak gerik pikiran, atau mengendalikan tingkah polah pikiran yang cenderung liar, bias, lekat terpesona terhadap objek (yang dikhyalkannya) memberi nikmat (Yasa,dkk, 2006:6). Bagi sang yogin inilah yang merupakan pangkal kemalangan manusia.
          Kemudian dalam Vrhaspati tattwasloka 52 disebutkan bahwa ada tiga prilaku spiritual yang harus selalu di usahakan oleh manusia untuk mencapai kebahagian yaitu:
1.    Jnanabhyudireka: memiliki kebijaksanaan atau pengetahuan hakikat secara sempurna.
2.    Indria yoga marga: berusaha untuk tidak terpesona nikmat duniawi dengan caramengendalikan indria melalui jalan yoga.
3.    Trsna doksaya: tidak terikat pada perbuatan baik atau buruk (Yasa,dkk, 2006:4).
          Berdasarkan uraian diatas jelas disebutkan bahwa sumber dari penderitaan yang dialami oleh manusia adalah karena citta atau pikiran yang tidak terkendali. Dan untuk mencapai kebahagiaan itu maka kita wajib melaksakan latihan spiritual untuk mengendalikan pikiran, latihan spiritual untuk mengendalikan pikiran secara bertahap agar tidak terikat dengan nikmat duniawi disebut dengan yoga.
          Meskipun kedua kitab tersebut meyatakan bahwa sumber penderitaan manusia adalah akibat dari Citta atau pikiran yang tak terkendali, dan sama-sama menawarkan ajaran yoga untuk keluar dari lautan penderitaan, kelahiran dan kematian yang berulang (Punarbawa), tetapi ada sedikit perbedaan ajaran yoga menurut kitab Wrhaspati tattwa dan ajaran yoga dalam Yoga sutra Rsi Patanjali.
     Karena adanya perbedaan ini, penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih dalam lagi ajaran yoga menurutkitab Wrhaspati tattwa dan membandingkannya dengan ajaran yoga Rsi Patanjali dalam Yoga sutra.Melalui artikel ini penulis berharap dapat menambah wawasan pembaca tentang yoga sehingga tidak muncul kebingungan, dan mampu memilih ajaran yoga yang paling tepat untuk dirinya.Dengan asumsi bahwa selain dipengaruhi karma wasana, dalam mempratikkan yoga juga sangat dibutuhkan pemahaman dan pengetahuan yang mendalam tentang ajaran yoga itu sendiri.

II. Pembahasan
2.1 Vrhaspati tatwa
          Kitab wrhaspati tattwa merupakan sebuah lontar paksa siwa yang mengandung ajaran samkya dan yoga.Bagian yang mengajarkan pembentukan alam semesta beserta isinya mengikuti ajaran samkya dan bagian yang mengajarkan etika pengendalian diri mengambil ajaran yoga.Secara etimologi Vrhaspati tatwa berasal dari kata “whraspati” dan “Tattwa”, pengertian Vrhaspati adalah:
Nama seorang Bhagawan di Sorga, Hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam Vrhaspati tattwa Seloka 1 yang berbunyi sebagai berikut:
          Irikang kala bana sira wiku ring swarga
          Bhagawad Whraspati ngaran ira
          Sira ta maso mapuja di Bhatara.

Terjemahannya:
Pada saatitu ada seorang petapa di sorga bernama Vrhaspati, Ia datang dan memuja Hyang Iswara ( Putra,dkk,1998:1 ).

          Kemudian menurut I Gede Sura, tatwaadalah “Kebenaran itu sendiri”  (Sura, t.Th: 24).Kebenaran yang di maksud disini adalah kebenaran yang mutlak tentang ke-Tuhanan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Jadi dapat disimpulkan bahwa Wrhaspati Tattwa berarti ajaran kebenaran atau hakekat kebenaran Dharma dari Bhagawan Wraspati.
          Ajarannya ini diterjemahkan dalam 74 sloka berbahasa Sansekerta yang di terjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno.Vrhaspati tatwa merupakan naskah jawa kuno yang bersifat realistis.Di dalam menyajikan ajarannya dirangkum dalam suatu mitologi yang tujuannya untuk mempermudah ajaranitu dimengerti.Mengingat ajaran filsafat atau Tattwa yang tinggi seperti ini memang sulit untuk dimengerti.
          Vrhaspati Tattwa sebagai ajaran untuk Umat Hindu di Bali memuat ajaran Yoga yang disebut dengan Sadanggayoga. Tahapan-tahapan dari Sadanggayogayang terdiri dari Prathyahara, Dhyana, Pranayama, Dharana, Tarka, dan Samadi, Yoga ini di ambil dari ajaran Yoga di India, yang disebut Astangga Yoga. Sedangkan tahapan awal dari Astangga Yoga yaitu Yama dan Nyama sesungguhnya juga terdapat di dalam Vrhaspati Tattwa yang disebut dengan Dasa Sila.Yama dan Nyama atau Dasa Sila dalam Vrhaspati tatwa tidak disebutkan kedalam tingkatan Yoga. Hal ini dilatarbelakangi oleh konsep berpikir Umat Hindu di Bali bahwa Dasa sila yang merupakan pengendalian diri terhadap pertama(Panca Yama Bratha) dan pengendalian diri terhadap kedua (Panca Nyama Bratha) tidak mesti dilaksanakan oleh orang yang melaksanakan Yoga, tetapi oleh setiap penganut agama Hindu.
          Dalam Vrhaspati Tattwa Tuhan disebut Parama Siwa atau Iswara.Beliau Esa (Tunggal) adanya.Beliau Sadhu Sakti atau memiliki delapan sifat kemahakuasaan beliau yang disebut Astaiswarya.Sifat kemahakuasaan Beliau ini dilambangkan dengan bunga teratai yang berdaun delapan yang disebut dengan Padmasana.Padmasana dianggap sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi (Brahman ,Parama Siwa atau Iswara) yang ada pada setiap Pura di Bali. Bunga Teratai yang berdaun delapan melambangkan delapan penjuru mata angin yang masing-masing kiblat ini di kuasai oleh Dewa.Diantara para Dewa itu ada disebut dengan Dewa Nawa Sanga.Kata Dewa Nawa Sanga ini berasal dari kata Dewata yang berarti dewa-dewa, Sanga berarti penjuru.
          Vrhaspati tatwa dalam ajarannya secara garis besar mengajarkan bahwa kenyataan tertinggi ada dua yaitu cetana dan acetana.Cetana tersebut adalah unsur kesadaran, sedangkan acetana adalah unsur ketidaksadaran keduanya ini bersifat halus dan menjadi sumber segala yang ada.Ada tiga jenis cetana, ketiganya ini disebut cetana telu.
1.    Parama siwa tatwa, yaitu cetana yang memiliki kesadaran tertinggi (bebas dari pengaruh maya), disebut juga dengan Shang Hyang Widhi Parama Siwa.
2.    Sadasiwa tatwa, yaitu cetana yang memiliki tingkat kesadaran menengah (ada pengaruh maya namun masih kecil) disebut dengan Shang Hyang Widhi Sadasiwa.
3.    Siwatman tatwa, yaitu cetana yang memiliki tingkat kesadaran terendah disebut juga dengan atma atau jiwatman (Septihariani, diakses 20 Maret 2012).
          Dalam wujud Shanghyang Widhi Parama Siwasama sekali tidak terbelenggu oleh maya, oleh karena itu ia disebut Nirguna Brahman, ia adalah perwujudan sepi, suci murni, kekal abadi tanpa aktivitas.Dalam wujud transendentalnya ini, kenyataan itu disebut dengan Nirguna Brahman, yaitu Brahman tanpa atribut.Ini diterima sebagai sesuatu yang satu dan tidak berbeda, yang tetap statis dan dinamis dan merupakan prinsip mutlak yang menggaris bawahi jagat raya.“Brahman adalah dia yang kata-katanya tidak dapat diungkapkan, dan yang mana tidak dapat digapai oleh pikiran kita yang membinggungkan”, Ungkap Taittiriya Upanisad (Paramita, 2006: 40).
          Parama Siwa kemudian mulai tersentuh maya, maka pada saat itu ia mulai terpengaruh sakti, guna, dan swabhawanya yang merupakan hukum kemahakuasaan Shanghyang widhi Parama Siwayang memenuhi segala kehendaknya disimbulkan dengan bunga teratai.Dalam aspeknya ini Parama siwa selalu ada dimana-mana yang disebut dengan Saguna Brahman.Beliau dipuja dalam bentuk pria dan wanita.Dalam aspek pria beliau dipuja sebagai Iswara, Parameswara, Paramaatma, Maheswara dan Purusa. Dari aspek wanita beliau disebut dengan nama Ibu Mulia, Durga, dan Kali.
          Pada tingkatan siwatman tatwa, maka sakti, guna, dan swambhawanya berkurang karena dipengaruhi maya. Karena pengaruh maya ini menyebabkan kesadaran aslinya berkurang dan bahkan hilang dan sifatnya berubah menjadi awidya, apabila kesadaran siwatman terpecah-pecah dan kemudian menjiwai mahluk hidup termasuk manusia maka ia disebut atma atau jiwatman. Meskipun atman merupakan bagian dari Shanghyang widhi namun karena adanya belenggu awidya yang ditimbulkan oleh pengaruh maya (pradhana tatwa) maka ia tidak menyadari asalnya. Inilah yang menyebabkan atma dalam lingkaran sorga dan neraka.

2.2. Yoga Dalam Vrhaspati Tatwa
          Kata yoga berasal dari bahasa sansekerta dari urat kata yuj yang artinya menghubungkan atau hubungan yang harmoni dengan objek yoga. Sedangkan menurut Rsi patanjali dalam kitab yoga sutra mendefinisikan yoga:
          Yogas citta vrtti nirodahah
                                                Yogasutra I sloka 2
Terjemahannya:
Mengendalikan gerak-gerik pikiran, atau cara untuk mengendalikan tingkah polah pikiran yang cenderung liar, bias, terikat oleh aneka ragam objek yang memberi kenikmatan (Yasa, dkk, 2006:6).

Kemudian Mpu Kanwa dalam kekawin Arjuna wiwaha:
          Sasi wimba hanang ghata mesi banu,
          Ndan asing suci nirmala mesi wulan
          Iwa mangkana rakwa kitang kadadin,
          Ring angambeki yoga kiteng sakala
                                                                        (ArjunaWiwaha,XI:1)
Terjemahannnya:
Bagaikan bulan di dalam tempayan berisi air di dalam air yang berisi air yang jernih   sebagai itulah dikau (Tuhan) dalam tiap mahluk kepada orang yang melakukan Yoga engkau menampakan diri (Yasa,dkk,2006:7)

Dalam slokanya ini Mpu Kanwa mengisyaratkan kepada kita bahwa yoga adalah jalan kesucian untuk menemukan-memahami dan mengalami kemanunggalan dengan Yang Suci.
          Simpul kata yoga, adalah jalan untuk mulat sarira, merefleksikan diri, instrospeksi diri yang menyebabkan orang tau diri, sehingga menjadi suci lahir bhatin. Suci berarti sahrdaya, yakni sehati dalam Tuhan Yang Mahasuci (Suka Yasa,dkk, 2006:9).
          Tujuan riil (jangka Pendek) orang mempelajari yoga adalah agar menjadi orang yang sehat dan bahagia lahir-batin, tidak sakit-sakitan terhindar dari penderitaan dan dapat melaksanakan tugas hidup sebagai mana mestinya. Sementara tujuan jangka panjangnya adalah agar dapat mengalami pengalaman religius, yakni mengetahui, memahami dan mengalami kemanunggalan dengan sang jati diri, manunggalnya Atman dengan Brahman.
          Dalam Vrhaspati tatwa sloka 53 disebutkan ada enam cabang yoga, yang disebut dengan sadangayoga.Sadangayoga ini juga dapat dikatakan sebagai enam tingkatan yoga yang saling terkait, mengabaikan salah satu tingkatan yoga berarti menghancurkan sistem yoga itu dan itu berarti gagal.Bunyi dari sloka yang dimaksud adalah:
Nahan tang sadanga yoga ngaranya, ika ta sadhana ning sang mahyun Umangguhakena sang hyang wisesa denjika, pahawas tang hidepta, haywa ta iweng-iweng denta ngrengosang hyang aji, hana pratyahara yoga ngaranya, hana tarka yoga ngaranya, hana pranayama yoga ngaranya, hana dharanaya yoga ngaranya, hana tarka ngaranya, hana samadhiyoga ngaranya, nahan sadanga yoga ngaranya
                                                                                    (Vrhaspatitattwa: 53)
Terjemahannya:
Pratyahara (penarikan), Dhyana (meditasi), pranayama (pengendalian nafas), dharana (menahan), tarka (renungan), Samadhi (konsentrasi), itulah ke enam cabang yoga.Sadangayoga menyatakan alat bagi orang yang ingin mencapai visesa. Pikiranmu harus tetap tanggap: tidak hanya mendengarkan ajaran suci. Patut kita ketahui prathyahara yoga,dhyanayoga, pranayama yoga, dharana yoga, tarka yoga, dan samadhiyoga.
( Putra,dkk, 1998:61)

          Dengan asumsi bahwa dengan mengetahui dan memahami serta mempraktikan sadangayoga secara benar dan baik selaras dengan karma vasana pastilah memperoleh pengalaman dan manfaat yang positif.Untuk lebih memahami tentang sadangayoga ini marilah kita kaji sloka-slokaVrhaspati tatwa selanjutnya.
2.2.1 Pratyaharayoga
          Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwasloka 54 di uraikan sebagai berikut:
Ikang indriya kabeh winatek sangkeng wisayanya,
ikang citta budhi manah tan wineh maparan-parana,
kinemitaken ing citta malilang, yeka pratyaharayoga ngaranya
                                                                                       Vrhaspati tatwa 54
Terjemahannya:
Pratyahara (penarikan diri) artinya indriya dari obyeknya, dengan upaya dan pikiran yang tenang.Semua obyek indria harus ditarik dari obyeknya dan manah tidak diperbolehkan bergerak kesana kemari.Ia harus dijaga oleh citta yang murni. Ini pratyaharayoga ( Putra,dkk, 1998:61)

          Pratyahara ini berarti penarikan. Yang ditarik disini adalah menarik indra dari objek kesukaanya. Masing-masing indra memiliki objek kesenangan sendiri-sendiri dari objek kesukaanya, missal mata suka akan rupa dan warna yang indah,dan benci rupa dan warna yang buruk indra penciuman suka bau yang harum dan benci bau yang busuk dan ketiga indra yang lainya memiliki objek kesenanagnnya sendiri. Indra-indra inilah yang perlu ditarik dari objek yang disenanginya dan yang dibencinya lalu diarahkan kedalam diri.
          Dengan pikiran yang terkendali konsentrasi jiwa dapat dilaksanakan dengan baik, semua keinginan untuk keperluan pribadi dan panca indria harus dikontrol.Ibarat seekor penyu yang menarik kepalanya dan anggota badannya, supaya jiwa menjadi harmonis dan seimbang.
          Disaat seseorang itu mengahadapi suatu kesulitan dalam hidupnya janganlah terlarut dalam kesedihannya itu, sebaliknya ketika seseorang mendapatkan kebahagian janganlah terlalu dipuji-puji.Hal baik kita terima dengan senang hati, hal burukpun kita terima dengan senang hati.Demikianlah orang yang memiliki keseimbangan jiwa dalam menghadapi suka dan duka.Selain pengekangan terhadap panca indria penegkakangan terhadap jiwa perlu dilakukan sehingga jiwa dapat bersatu dengan atman. Dengan bersatunya atman dan jiwa, maka yang maha tahu akan menampakkan dirinya.
2.2.2 Dhayanayoga
          Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwa sloka 55 di uraikan sebagai berikut:
Ikang jnana tan pangrwa-rwa, tatan wikara, enak heneng-heneng nira, umideng sad tan kawarana, yeka dhyanayoga ngaranya.
                                                                           Vrhaspati tatwa 55
Terjemahannya:
Dhyana (meditasi) adalah yoga yang terus menerus memusatkan pikiran kepada suatu bentuk yang tak berpasangan, tak berubah damai dan tidak bergerak.Pengetahuan yang indah tak berpasangan tidak berubah indah dan tenang, tetap stabil, tanpa selubung yang demikian itulah Dhyanayoga.( Putra,dkk, 1998:61)

          Dhyanayoga atau meditasi adalah keadaan pikiran dimana pikiran merupakan keberadaan yang mutlak yang tidak melakukan tindakan.Menurut Agama Hindu atman adalah sumber kekuatan yang tak terbatas dan kebijaksanaan dalam diri manusia dan Dhyana atau meditasi adalah alat untuk berhubungan dengan kebijaksanaan tertinggi.Para Rsi Hindu mengatakan bahwaketika pikiran tidak melakuakan apa-apa pikiran dapat memasuki tahap kesadaran super atau turiya dan menyadari penyatuan dengan Tuhan.Stelah seseorang itu mencapai turuya maka seseorang tersebut dapat dikatakan telah mencapai moksaterbebas adri siklus kelahiran dan kematian.Seseoarang yang dapat mencapai turuya ketika masih berada adalam tubuh manusia disebut dengan Jivanmukti.
          Dhyanabukanlah suatu tindakan yang dapat dilakukan oleh seseorang, namun sebuah phenomena yang muncul dengan spontan dan tidak disadari ketika pikiran tidak berpikir atau berada pada tahap tidak melakukan tindakan.Meditasi dan konsentrasi dapat dibedakan dengan sifatnya yang tidak terintrupsi.Konsentrasi diibaratkan dengan menuangkan air sedangkan Meditasi diibaratkan menuangkan minyak. Keduanya kan jatuh pada tempat yang sama, namun jatuhnya air tidak akan selancar minyak. Air memiliki kecendrungan untuk berpencar menjadi titik-titik air, sehingga mengakibatkan aliran yang tidak bias.
2.2.3 Pranayamayoga
          Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwa sloka 56 di uraikan sebagai berikut:
Ikang sarwadwara kabeh yateka tutupane, mata, irung, tutuk, talinga,ikang vayu huwus inesep nguni rumuhun, yateka winetwaken maha waneng wunwunwn, kunang yapwan tan abhyasa ikang vayu mahawane ngkana, dai ya winetwaken mahawaneng irung ndan saka sadiki dening mawetwaken vayu, yateka pranayamayoga ngaranya.
                                                                                    Vrhaspati tatwa 56
Terjemahannya:
Pranayama (pengatuaran nafas) ialah menutup semua jalan keluar nafas dari batok kepala (pada saat meninggal).Semua jalan keluar harus ditutup mata, hidung, mulut, telinga.Nafas yang telah ditarik dikeluarkan melalui batok kepala. Jika orang tidak mengeluarkan nafas dengan cara ini, maka nafas ajkan keluar melalui hidung. Tapi ia hanya mengeluarkan sebagian kecil dari nafas itu. Inilah yang dinamakan pranayamayoga( Putra,dkk, 1998:62)

          Pranayama berarti pengaturan pernapasan yang lancar panjang dan dalam.Manfaat dari peranayama ini adalah untuk membantu menghilangkan pikiran yang tidak diinginkan.Sehingga mempermudah kita untuk berkonsentrasi dan bermeditasi. Para Rsi mengatakan nafas yang pendek dan teratur akan meningkatkan aktifitas mental, yang menghasikan pikiran yang tidak diinginkan yang akan merusak pikiran.
2.2.4 Dhranayoga
          Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwa sloka 57 di uraikan sebagai berikut:       
Hana ongkara sabda umunggwing hati, yateka dharanan, yapwan hilang ika nora karengo ri kala ning yoga yateka sivatma ngaranya, sunyawak bhatara siva yan mangkana yeka dharanayoga ngaranya.
                                                                        Vrhaspati tatwa  57
Terjemahannya:
Omkara yang merupakan sifat siva harus ditempatkan dalan hati penuh dengan tatva. Karena Omkara dipegang terus maka dinamakan “menahan” dhrana.Suara omkara bertempat dihati.Orang harus memusatkan pikiran kepadanya.Bila lenyap dan tidak didengarkan saat beryoga dinamakan Sivatman. Dalam keadaan seperti itu bhatara siva dikatakan dalam keadaan kosong. Inilah dharanayoga.(Putra,dkk, 1998:62)

          Dharanayoga artinya menguasai indria dibawah pengawasan manah ‘pikiran’ dan memusatkan pikiran pada objek meditasi.Objek dari konsentrasi dapat berupa gambaran dari dewa, sebuah mantra, nafas dan yang lainnya.
2.2.5Tarkayoga
          Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwa sloka 58 di uraikan sebagai berikut:
Kadi akasa rakwa sang hyang paramartha, ndan ta palenanira lawan akasa, tan han sabda ri sira, ya ta kalingan ing paramartha,papada nira lawan awing-awang malilang juga, yeka tarka yoga ngaranya.
                                                                           Vrhaspati tatwasloka 58
Terjemahannya:
Tarka (renungan) ialah terus menerus memusatkan pikiran kepadaNya yang wujudnya sangat halus, tetap dan tenang dan hening.
Engkau harus mengetahui bahwa paramartha sangat halus.Tetapi juga ada bedanya dengan yang halus itu yaitu bahwa paramartha tanpa suara.Itulah penjelasan paramartha yang dapat dipersamakan dengan akasa.Ia suci. Itulah yang disebut tarka yoga.( Putra,dkk, 1998:62)

2.2.6 Samadhi

Ikang jnana tanpopeksa, tan panggalpane, tan hana kaharep nira, tan han sinadhyanira, alilang tan kawaranan juga, tatan pakahilang, tatan pawasta ikang cetana, apan mari muhidep sira ikang sarira, luput saking catur kalpana.Catur kalpana ngaranya, wruh lawan kinaweruhan, pangawruh lawan  nahan yang caturkalpana ngaranya, ika ta kabeh tan hana ri sang yogisvara yateka Samadhi ngaranya. Nahan yang sadanga yoga ngaranya, pinaka jnana sang pandita matangyang kapangih sang hyang visesa, ika kayogiswaran mangkana, yateka karaksan ring dasasila.
                                                                           Vrhaspati tatwa 54
Terjemahannya:
Samadhi (konsentrasi) ialah terus menerus merenungkan-Nya sebagai yang mutlak, tidak dapat dijelaskan, tanpa nafsu, tenang, tak berubah dan tanpa ciri.Jnana (pengetahuan) itu mutlak, tak dapat dijelaskan, tanpa nafsu, tanpa tujuan, suci, tak berselubung, dan tidak terbinasakan.Cetana ini tidak bertujuan.Ia tidak memiliki kesadaran fisik. Ia bebas dari catur kalpana. Catur  kalpana artinya pengetahuan dan yang diketahui, sarana untuk mengetahui dan orang yang mengetahui. Itulah keempat kalpana.Semua ini tidak ada pada yogisvara.Inilah yang dinamakan samadhiyoga.Sadangayoga ini harus dimiliki oleh seorang pandita. Dengan demikian orang akan mencapai visesa. Sifat yogisvara ini harus ditunjang oleh kesepuluh kebajikan. (Putra,dkk, 1998:63)

Samadhi merupakan tahap terakhir yoga baik tahapan menurutWrhasapati Tattwa dalam Sadanggayoga, maupun tingkatan yoga menurut Rsi Patanjali dalam Astangayoga.Samadhiadalah “penyatuan dengan dengan Tuhan”. Dalam sebuah Samadhi yang sadar seorang akan mencapai  kekuatan super-natural (yang disebut dengan siddhi) dengan kekuatan dari latihan yoga.
Kesadaran super Samadhi secaraumum terdapat dua jenis:Salvikalpa Samadhi dan Nirvikalpa Samadhi. Salvikalpa berarti “terpisah” dan Nirvikalpa berarti tidak ada pemisahan.Dalam salvikalpa Samadhi para pemuja mempertahankan sebuah identitas yang terpisah (hubungan subyek-obyek) dari Tuhan.Dalam Nirvikalpa Samadhi hubungan subyek-obyek berakhir dan seorang pemuja itu menjadi satu dengan Tuhan (Paramita, 2006: 85).

2.3 YogaSutra
          Ajaran yoga merupakan anugerah yang sangat luar biasa besarnya dari Rsi Patanjali kepada siapa saja yang melaksanakan hidup kerohanian.Ajaran ini merupakan bantuan kepada mereka yang ingin menegetahui kenyataan roh sebagai asas yang bebas, bebasa dari tubuh, indria, dan pikiran yang terbatas. Rsi Patanjali menulis ajaran-ajaran yoga ini kedalam “sutra-sutra”.Beliaulah pendiri system ajaran yoga ini.
          Sutrasecara etimologis berarti “benang” dan dalam konteks ini ia berarti pernyataan-pernyataan pendek yang memmbantu untuk mengingatkan (Maswinara,1999:10).Sutra-sutra itu sangat singkat sehingga maknanya menjadi sangat tidak jelas sehingga dibutuhkan suatu penjelasan yang terperinci serta penafsiran yang jelas melalui ulasan-ulasan.Ulasan masing-masing sutradisebut dengan Bhasya.
          Kitab SutraRsi Patanjali terdiri dari 4 (empat) bab dan mengandung 194 Sutra. Bagian pertama mengajarkan tentang teori yoga yang terdiri dari 51 Sutra, isinya adalah tentang sifat, tujuan dan bentuk ajaran yoga. Selain itu juga menerangkan perubahan-perubahan pikiran dan cara pelaksanaan ajaran yoga.
          Bagian kedua berisikan tentang praktik yoga, pada bagian keduanya ini terdiri dari 55 Sutra, isinya tentang tata cara pelaksanaan yoga seperti bagaimana cara mencapai Samadhi, tentang kedukaan, tentang karma phaladan yang lainnya.
          Bagian ketiga terdiri dari 54 Sutra. Pada bagian ketiga ini diajarkan tentang cara mencapai tujuan yoga , juga mengajarkan segi bathiniah ajaran yoga dan juga tentang kekuatan gaib yang didapat karena melaksanakan praktik yoga. Kekuatan ini disebut dengan siddhi.
          Sedangkan bagian terkhir, yakni bagian ke empat menjelasakn tentang kelepasan (moksa), melukiskan tentang alam kelepasan dan kenyataan roh yang mengatasi alam duniawi.Bagian keempat ini terdiri dari 34 Sutra.
2.3.1 Yoga Dalam Yoga Sutra Rsi Patanjali
          Sesuai dengan yang dinyatakan Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra II.29 sebagai berikut:
          Yama niyamasana pranayama pratyahara
          Dhrana dhyana samadhys stavanggani
                                                            Yoga Sutra II.29
Terjemahanya:
Yama, niyama, pranayama, pratyahara, dhrana, dhyana, dan Samadhi.Ini semua disebut delapan bagian yoga. (Yasa,dkk,2006:24)

          Untuk selanjutnya kita hanya akan membahas tentang Yama dan Nyama, karena ke enam bagian lainnya sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. (lihat penjelasan tentang yoga dalam Wharaspati tattwa).
2.3.1.1 Yama
          Dalam pustaka suci Yogasutra II.30 di uraikan sebagai berikut:
          Yama adalah pengendalian diri yang harus dilakukan oleh setiap orang dalam usaha meningkatkan kualitasa hidup yang lebih baik.
          Ahima satasteya
          Brahmacaryaparigraha yamah
                                                Yogasutra II.30
Terjemahannya:
Ahimsa tidak membunuh, tidak melukai dan berlaku kasar pada sesama, baik melalui pikiran, perkataan, apalagi perbuatan.Satya bersikap dan berprilaku bajik, setia pada ucapan, dan jujur pada perbuatan.Asteya tidak mencrui atau menginginkan milik orang lain. Brahmacarya bersikap dan berperilaku terkendali, mengendaliakan hawa nafsu.Aparigraha hidup sederhana dan tidak serakah dapat menerima kenyataan hidup apa adanya (Yasa,dkk:2006:24)

2.3.1.2 Nyama           
          Nyama adalah pengendalian rohani dengan tujuan agar rohani menjadi suci dan bersih sehingga membantu mempermudah dalam melaukan Samadhi atau pemujaan kepada Ida Shang Hyan Widhi Wasa. Didalam Yogasutra. II: 32 disebutkan:
          Sauca samtosa tapah
          svadyayesvara pranidhani niyamah
                                                            Yogasutra. II: 32
Terjemahanya:
Sauca berusaha menjaga kebersihan dan kesucian diri, baik lahir maupun bhatin.Santosa menjaga kestabilan emosi agar selalu tenang, arif, dan bijak dalam menghadapi permasalahan hidup.Tapa berusaha untuk tahan uji, berpegang teguh pada dharma.Swadiyaya berusaha mandiri dan tekun mempelajari kitab suci.Iswarapranidhana selalu memusatkan pikiran dan bhakti kepada iswara atau Tuhan (Yasa,dkk,2006:25).

          Dalam usaha mendekatkan diri dengan Tuhan kesucian lahir dan bhatin sangat di utamakan sekali. Sependapat dengan apa yang di sampaikan oleh Bhagawan Satya Narayana bahwa:
“Bila mangnet tidak menarik jarum kesalahan terletak pada kotoran yang menutupi jarum. Apabila Tuhan tidak mendekat kea rah sadhaka, kesalahan terletak pada hati nurani sadhaka yang belum cukup bersih” (Narayana,1999:20)
Untuk itulah  ajaran yoga mengajarkan agar orang-oarang mengendalikan diri dari tindakan-tindakan lahir atau tindakan yang bersifat fisik seperti memukul, menendang, mencaci dan juga mengendalikan tindakan yang bersifat rohani seperti iri hati, tidak cepat marah sehingga seseorang akan mencapai ketenangan dan tahap demi tahap (Angga) dapat mendekatkan diri dengan Ida Shang Hyang Widhi.
2.4Benang Merah Antara Yoga Menurut Vrhasapati Tattwa Dengan Yoga Sutra Rsi Patanjali
          Kitab Wrhaspati Tattwaselain mengajarkan konsep ke-Tuhanan dan pembentukan alam semesta beserta isinya yang mengikuti ajaran samkya,kitab Wrhaspati Tattwajuga mengajarkan etika pengendalian diri yang mengambil ajaran yoga.Ajaran etikanya kita dapati pula pada lontar-lontar lain seperti Vratisasana dan panca siksa.Isinya merupakan percakapan antara Parameswara dengan yang mulia wrhaspati. Pada sloka dua diceritakan wrhaspati memohon kepada Sang Hyang Widhi agar diajarkan dari inti sari ilmu dengan demikian akan memberikan kebahagiaan kepada semua yang bergerak dan yang tidak bergerak.
          Pengendalian diri menurut kitab wrhaspati tattwa pada prinsipnya tidak jauh berbeda dari kitab yang lainnya melainkan mempunyai hubungan yang sangat erat yang dapat kita gunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup kejalan yang benar.Pengendalian diri ini sangat diperlukan oleh siapapun yang menginginkan taraf kehidupannya kearah yang lebih baik dari pada sekarang supaya tidak jatuh ke neraka seseorang harus mengendalikan dirinya dan melaksanakan ajaran etika sehingga kecenderungan-kecenderungan hati yang buruk dapat dibendung dan kecenderungan yang baik dapat dipupuk dalam hati.Dalam hubungan ini wrhaspati tattwa mengambil astanga yoga ajaran Rsi Patanjali sebagai jalan untuk menguasai diri. Dengan demikian ajaran Yama dan Nyama dalam ajaran ini juga menjadi alas ajaran yoga ialah sebagai ajaran yang bersifat etis,
          Susunan Astanga yoga dalam ajaran wrhaspati tattwa berbeda dengan susunan astangga yoga Rsi Patanjali.Dengan memisahkan Nyama dan Yama dari kedelapan anggota yoga sehingga tinggal enam yoga itu disebut Sadangga Yoga.Susunan Saddangga itupun berbeda-beda dengan susunan dalam yoga sutra yaitu dengan mendahulukan dhyana dari prayanama dan mengganti asana dengan tarka yoga.Tentang penjelasan masing-masing anggota yoga itu sesuai juga dengan penjelasan yoga sutra Patanjali.Dalam kitab wrhaspatitattwa ini ajaran yoga dimulai dengan jalan sadangga yoga dan kemudian ajaran Yama Nyama. Hal ini terbalik bila dibandingkan dengan susunan yoga sutra Patanjali, dalam tulisan ini kami ikuti susunan astangga yoga itu sebagai mana yang tersebut dalam kitab Wrhaspati Tattwasloka 53 sebagai berikut :
Pratyaharastatha dhyanam
Pranayamasca dharanam,
Tarkascaiva samadhisca
Sedangga yoga ucyate
                           Wrhaspati Tattwa sloka 53
Terjemahannya:
Demikianlah sadangga yoga namanya, Itulah saranannya orang yang ingin menemukan Sang Hyang Wisesa, biarlah terang hitam, janganlah kalut olehmu mendengar ajaran ini.Ada pratyahara yoga namanya, ada dhyana yoga namanya, ada tarka yoga namanya, ada Samadhi yoga namanya. Demikianlah sadangga yoga namanya (Awanita, dkk,1994: 263)

          Yang harus diketahui oleh seseorang untuk dapat mengendalikan diri adalah harus menyadari apa tujuan hidup dilahirkan sebagai manusia. Dari demikian banyaknya makhluk yang hidup yang dilahirkan sebagai manusia itu saja belum semuanya mampu berbuat baik, Adapun peleburan perbuatan buruk kedalam perbuatan baik juga merupakan manfaat menjelma menjadi manusia.Hendaknya janganlah seseorang bersedih meskipun tidak makmur kelahiran menjadi manusia itu hendaknya membesarkan hatimu sebab sesungguhnya sangat sulit itu yang menjelma menjadi manusia, Sebagai manusia merupakan phala dan karena itu merupakan suatu kesempatan bagi manusia untuk dapat memperbaiki diri dengan melebur atau mengalahkan perbuatan yang tidak baik dengan perbuatan yang baik selalu. Dalam ajaran agama hindu hidup itu sendiri adalah samsara (sengsara) yang harus disahkan oleh setiap orang menyudahinya, sebaliknya hidup sebagai manusia merupakan phala karena hidup itu ia akan dapat mengusahakan , membebaskan diri dari penderitaan sebagai akibat lahir itu dibandingkan dengan makhluk lainnya. Sebab menjadi manusia sungguh utama juga karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik, demikian keistimewaan menjadi manusia itu.
          Orang yang tidak berhasil melakukan dharma, artha dan kama serta moksa, sayang benar padanya tetapi tiada berguna hidup ini, orang yang demikaian dinamai orang yang hanya mementingkan memelihara badan wadagnya, yang kemudian dicaplok oleh maut. Dengan melatih Dhyana yoga, pranayama yoga, dharana yoga dan Samadhi yoga, ketenangan bhatin, ketentraman dalam hidup ini maupun di akhirat akan terwujud. Ada ong karasabda nama tempatnya di hati, itulah supaya ditahan kuat-kuat. Bila ia lenyap tak terdengar lagi waktu melaksanakan yoga, itulah siwatman namanya. Pada saat demikian Bhatara Siwa bebadan Sunya.Jika konsentrasi terpusat keberhasilan pengendalian indria dapat kita lakukan.
            Suasana yang digambarkan diatas dalah suasana yang luar biasa tenangnya lepas dari rangsangan duniawi karena kemampuan pengendalian diri atau pikiran yang luar biasa pula.SetelahPratyahara, Dhyana, pranayama, dharana, tarka, samadhidapat dilakukan barulah dijelaskan dalam kitab Wrhaspati tattwa etika dalam yoga. Namun berbeda dengan yang dijelaskan dalam yoga sutra Rsi Patanjali, etika dalam kitab Wrhaspati tattwa bukan disebut dengan Yama dan Nyama melainkan disebut dengan Dasa Silaatau sepuluh sifat kebijaksanaan. Susunan Yama dan Nyama dalam kitab Wrhaspati tattwa terdapat dalam sloka 60 dan sloka 61 sebagai berikut:
Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwa sloka 60 di uraikan sebagai berikut:
Ahimsa brahmacayanca,Satyam avyaharikam,
Astainyamiti pancaite, Yama rudrena bhasitah
                                    Wrhaspati Tattwa sloka 60
Terjemahannya:
Ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya tidak berhubungan seksual,Satya namanya tidak berbohong, avyaharika namanya tidak berjual beli, tidak  berbuat dosa karena kepintarannya, Asteya namanya tidak mengambil milik orang lain bila tidak mendapat persetujuan kedua belah pihak. Demikianlah susunan Yama dalam kitab Wrhaspati tattwa.(Awanita, dkk,1994: 265)

Dalam pustaka suci Vrhaspati tatwa sloka 61 di uraikan sebagai berikut:
            Akrodha gurususrusa, Sauca aharalagawan,
Apramadasca Pancaite, Niyama Parikertitah
                                                                        Wrhaspati Tattwa sloka 60
Terjemahannya:
Akrodha namanya tidak marah saja, gurususrusa namanya berbakti kepada guru, selalu melakukan japa, memebersihkan badan,aharalagawa namanya tidak makan berlebihan, Apramada namanya tidak lalai.(Awanita, dkk,1994: 265).
Demikianlah susunan Nyama dalam kitab Wrhaspati tattwa.
          Mengendalikan pikiran dalam konteks yoga merupakan hal yang terpenting, yang dimaksud mengendalikan dalam konteks yoga berarti amuter tutur pinahayu “membalik kesadaran secara benar” menurut Mpu Kanwa, X:I (Yasa,dkk, 2006: 6). Artinya kesadaran yang tadinya cenderung mengarah keluar dan suka berada di luar diri adalah kesadaran yang cenderung terjebakkarena sering kali didasari pemikiran yang keliru.Oleh sebab itu kesadaran itu perlu dibalik.Maksudnya pikiran hendaknya berdasarkan atas pengetahuan yang benar, pikiran diarahkan kedalam diri, hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti disiplin yoga.
          Untuk dapat melihat perbedaan susunan yoga menurut kitab Vrhaspati tattwa dan Yoga sutra Patanjali lihatlah tabel berikut ini:
Tabel Perbedaan Yoga Sutra Rsi Patanjali
Dan Vhraspatti tattwa
No
Yogasutra Patanjali
Vhraspati tattwa
1
Yama Brata
Pratyahara
2
Nyama Brata
Dhyana
3
Asana
Pranayama
4
Pranayama
Dhrana
5
Pratyahara
Tarka
6
Dhrana
Samadhi
7
Dhyana

8
Samadhi


          Berdasarkan tabel tersebut dapat kita lihat perbedaan susunan yoga menurut kitab Vrhaspati tattwa dan Yoga sutra Patanjali, perbedaan-perbedaan itu yaitu:
1.    Dalam Vhraspati tattwa Yama dan Nyama tidak dimasukan secara langsung kedalam tingkatan yoga seperti dalam yoga sutra Patanjali. Dalam hal ini penulis berasumsi bahwa Yama dan Nyama bukanlah tindakan yang hanya harus dilakukan oleh orang ingin menekuni yoga saja, namun sudah merupakan kewajiban bagi umat Hindu, yang dapat tercermin dari perilaku kesehariannya. Selain itu penulis berasumsi bahwa tingkatan yoga dalam Vhraspati tattwa diperuntukan bagi seseorang yang memiliki tingkat spiritual yang tinggi, dimana Yama dan Nyama Bratanya tidak diragukan lagi.
2.    Dalam Vhraspati tattwa YamaPratyaharadiletakan pada tingkatan pertama dalam hal penulis berasumsi bahwa karena tingkat spiritual yang tinggi dan Yama dan Nyama tidak diragukan lagi, maka dengan sangat mudah Pratyahara (penarikan indria dari objek kesengannya) itu dilakukan.
3.    Kemudian susunan pranayama dalam Yoga sutra Patanjali pranayama diletakan sebelum DhranadanDhyana. Sedangkan dalam kitab Vrhaspati tattwa,pranayama diletakan diantara Dhyana danDhrana. Menurut Yoga sutra Patanjali prana atau nafas itu meliputi seluruh tubuh termasuk di dalam indria, jadi dengan mengendalikan nafas (pranayama) kita dapat mengendalikan indria.
4.    Kemudian yang sangat menarik adalah susunan dhrana danDhyana, jika didalam Yoga sutra Patanjali letak Dhrana berada pada tingkatan ke-enam yakni sebelum Dhyana akan tetapi ini berbeda jika pada tingkatan yoga dalamkitab Vrhaspati tattwa,Dhyana mendahului Dhrana. Yang penulis dapat cermati disini adalahdi dalam kitab Vrhaspati tattwakitab Vrhaspati tattwasetelahPratyaharadapat dilaksanakan maka sang yoginakan melaksanakan pemusatan pikiran pada suatu bentuk yang tidak berpasangan, tak berubah dan tak bergerak, dalam konteks ini adalah Tuhan yang bersifat transenden atau Nirguna Brahman. Namun sang yogi disini memusatkan pikiran kepada Tuhan yang bersifat Dvaita, dimana sang yogin menganggap bahwa  adanya perbedaan dan keterpisahan antara Paramatman (Tuhan) dan jivatman (roh pribadi). Hal ini berbeda jika kita cermati dalamYoga sutra Patanjali, dimana sang yogin memusatkan pikirannya lansung kepada Tuhan yang bersifat transendenatau Nirguna Brahman dan merupakan Tuhan yang bersifat advaita dimana sang yogi menganggap Paramatman (Tuhan) identik dengan jivatman (roh pribadi). Dimana ia tidak mencari keluar namun kedalam.
5.    Jika kita bandingkan dengan yoga dalamkitab Vrhaspati tattwa setelah Dhyana berhasil dilakukan, maka sang yoginakan melaksanakan pranayama untuk membantu dalam mencapai Dhrana yaitu pemusatan kedalam dengan objek pemusatan berupa aksara suci “OM” yang terletak di hati. Yang dapat penulis cermati disini adalah jika sang yogin sudah mencapai tahapDhrana maka dapat dikatakan bahwa sang yogin mengalami perubahan pandangan, melalui tahap Tarka  berangsur-angsur sang yogin akan menyadari bahwa dirinya adalah  Brahman atau Siva. Simpul kata kitab Vrhaspati tattwa mengajarkan kita konsep ke-Tuhanan Dvaitadvaita sedangkan dalam Yoga sutra Patanjali mengajarkan pada kita konsep ke-Tuhanan Dvaita.
          Berdasarkan uraian diatas memang kita temukan beberapa berbedaan yoga menurut Rsi Patanjali maupun menurut Vrhaspati tatwa.Namun hendaknya kita tidaklah binggung dengan adanya perbedaan-perbedaan ini, karena sesuai yang di sebutkan dalam Vrhaspati tatwa sloka 3 dan 4.Disebutkan bahwa kenapa ajaran yang diturunkan itu berbeda hal ini disebakan karena banyaknya yoni yang menjadi sumber kelahiran dan adanya bermacam-macam wasana.Kemudian dalam sloka selanjutnya dijelaskan bahwa yang menyebabkan kebingungan (brantha) adalah awidya. Di ibaratkan ilmu pengetahuanatau kebenaran itu bagaikan seekor gajah, namun manusia yang diijinkan menyentuhnya bagaikan orang buta, dan tidak menyentuh gajah itu secara menyeluruh sehingga menimbulkan pandangan yang berbeda-beda tentang gajah dalam konteks ini ilmu pengetahuan atau kebenran, sehingga menyebabkan kebingungan pada manusia.

2.5 Simpulan
          Yoga merupakan salah satu cara untuk mencapai kebahagian lepas dari segala penderitaan. Didalam melaksanakan yoga dibutuhkan suatu disiplin yang tinggi mengabaikan salah satu tingkatan berarti sama dengan merusak tingkatan selanjutnya. Yoga bukan hanya berarti hanya duduk diam dan memejamkan mata.Tetapi yoga dapat terealisasi dari kehidupan sehari-hari, hal ini terdapat dalam ajaran Vrhaspati tatwa dan juga Yoga SutraRsi patanjali.Didalam melaksanakan yoga hendaknya selain memahami dan mengetahui ajaran yoga seseorang harus menyesuaikan dengan kemampuan spiritual yang dimilikinya, hal ini karena tingkat spiritual yang dimiliki manusia itu berbeda-beda.

Daftar Pustaka
Putra, I.G.A.G dan Sadia, I Wayan.2009. Vrhaspati Tatwa. Alih Bahasa. Surabaya: Paramita Surabaya.
Suka Yasa, I wayan, dkk.2006. Yoga Marga Rahayu. Denpasar: Penerbit Widya Dharma dan Tim PIA Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia
Narayana, Sathya. 1999. Shadana Disiplin Spritual. Surabaya: Paramita Surabaya.
Maswinra, I wayan.1999.System Filsafat Hindu Samgraha. Surabaya: Paramita Surabaya.
Pendit, Nyoman S. 2007.Filsafat Hindu Dharma, Sad Darsana, Enambaliran Astika (Ortodok).Denpasar: Pustaka Bali Post
Sumawa, I Wayan, dkk. 1996. Materi Pokok Darsana. Universitas Terbuka : Jakarta.
Dewi, Paramita IGA.2006. Pemikiran Hindu (Pokok-Pokok Pikiran Hindu Dan Filsaftnya Untuk Semua Umur). Surabaya: Paramita Surabaya.
Kama jaya, Gede.Yoga Kundalini (Cara Untuk Mencapai Sidhi dan Moksa). Surabaya: Paramita Surabaya.
Awanita, Made, dkk. Sila dan Etika Hindu.Jakarta. Tidak diterbitkan.
Rujukan dari Internet berupa Artikel
Septihariani. Nilai – Nilai Pendidikan Dalam Lontar Whraspati Tattwa. (http://www.google.com, diakses 20 Maret 2012).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar yg baik,,adalah dia yg memberikan kritik dan saran yg sifatnx membangun guna kesempurnaan bloger,,,Thanks...